Opini
Mengenal Bantengan: Tradisi Seni Pertunjukan yang Sarat Makna

Tauaja.com – Dalam beberapa waktu terakhir, “bantengan” kembali ramai dibicarakan dan mendapat sorotan, khususnya di Jawa Timur. Tradisi ini merupakan kesenian rakyat yang telah lama ada dan menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Bantengan menggabungkan unsur seni tari, musik, dan mistis yang membuatnya unik dan penuh daya tarik.
Apa itu Bantengan?
Bantengan adalah sebuah seni pertunjukan yang memadukan gerak tari dengan musik dan sering disertai unsur mistis. Kata “bantengan” berasal dari kata “banteng” yang berarti kerbau atau sapi jantan dalam bahasa Jawa. Pertunjukan ini melibatkan seorang pemain yang “dirasuki” roh banteng, sehingga ia akan bergerak layaknya banteng yang sedang beraksi di arena.
Asal Usul dan Sejarah Bantengan
Asal usul kesenian bantengan dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan di Jawa Timur. Konon, kesenian ini dulunya dipakai sebagai media untuk mengusir bala dan menjaga desa dari ancaman. Dalam perkembangannya, bantengan berubah menjadi pertunjukan yang memiliki makna religius sekaligus sebagai hiburan rakyat.
Bantengan sangat erat kaitannya dengan budaya agraris. Dalam pertunjukan ini, roh banteng dianggap sebagai simbol kekuatan yang mengayomi dan melindungi masyarakat desa. Di beberapa daerah di Malang, Batu, dan sekitarnya, kesenian bantengan bahkan menjadi bagian dari ritual dan acara adat masyarakat setempat.
Bagaimana Pertunjukan Bantengan Dilakukan?
Dalam setiap pertunjukan bantengan, terdapat pemain utama yang akan memerankan “banteng”. Pemain ini akan mengenakan kostum banteng dan dibantu oleh pawang atau dalang yang bertugas sebagai pemimpin acara. Pawang inilah yang mengendalikan suasana dan memanggil roh untuk masuk ke dalam tubuh sang pemain.
Musik gamelan, gendang, dan alat musik tradisional lain akan dimainkan untuk menyelaraskan gerakan pemain. Suasana mistis tercipta ketika pemain mulai menunjukkan gerakan banteng dengan agresif, bahkan kadang-kadang sampai tidak sadarkan diri. Pada saat ini, pawang akan turun tangan dan “mengendalikan” roh banteng yang telah masuk ke dalam tubuh sang pemain.
Nilai-nilai yang Terkandung dalam Bantengan
1. Keberanian dan Kekompakan: Bantengan mengajarkan nilai keberanian dan kekompakan, baik antar-pemain maupun dengan pawang dan pengiring musik.
2. Kearifan Lokal: Sebagai seni tradisional, bantengan juga mengandung kearifan lokal yang sangat khas dengan budaya masyarakat Jawa Timur.
3. Religiusitas: Banyak yang percaya bahwa bantengan memiliki nilai religius dan magis yang menjadi bagian dari ritual adat dan doa-doa tertentu.
4. Penghormatan pada Alam: Melalui simbolisasi banteng, masyarakat diajak untuk lebih menghormati dan menjaga alam.
Mengapa Bantengan Kembali Ramai Diperbincangkan?
Popularitas bantengan baru-baru ini meningkat karena adanya berbagai festival budaya yang digelar di Jawa Timur dan konten-konten video bantengan yang viral di media sosial. Beberapa video menunjukkan aksi-aksi para pemain bantengan yang tampil dalam keadaan kerasukan, lengkap dengan atmosfer mistis yang kuat, membuat banyak orang penasaran dan ingin tahu lebih jauh mengenai kesenian ini.
Bantengan bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas budaya masyarakat Jawa Timur. Di tengah modernisasi yang terus berlangsung, keberadaan kesenian seperti bantengan menjadi penting sebagai pengingat akan kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia.