Kanker Payudara, dari Mana Asalnya?

Kanker payudara adalah kanker yang berkembang dari sel kanker yang berasal dari jaringan payudara. Kanker payudara yang paling sering ditemukan adalah karsinoma duktal, sel kanker tumbuh berawal dari sel duktal.

Untuk diketahui payudara terbentuk dari lobus dan duktal. Setiap payudara mempunyai 15 sampai 20 lobus yang terdiri atas lobulus. Lobulus terdiri atas bulbus kecil-kecil yang dapat memproduksi air susu. Lobus, lobules, dan bulbus dihubungkan melalui saluran kecil yang disebut duktus.

Karsinoma lobular sering ditemukan di kedua payudara. Kanker payudara merupakan kanker yang tersering ditemukan di banyak rumah sakit di Indonesia, disusul oleh kanker cervix, paru, nasofaring, dan kanker usus besar.

Usia dan riwayat kesehatan dapat memengaruhi risiko terjadinya kanker payudara. Apa pun yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara disebut sebagai “faktor risiko”. Memiliki faktor risiko tak berarti kita pasti terkena kanker. Demikian pula, tidak memilii faktor risiko tidak berarti pasti tidak akan kena kanker payudara.

Faktor risiko kanker payudara, antara lain, usia lanjut, menstruasi dini, tidak pernah melahirkan, melahirkan anak pertama pada usia lebih tua, riwayat tumor jinak payudara, mempunyai ibu atau kakak perempuan dengan kanker payudara, payudara dengan densitas tinggi pada pemeriksaan mamogram, pernah mendapat pengobatan radioterapi di dada, riwayat mendapat pengobatan estrogen dan progesterone, dan minum alkohol.

Kanker payudara kadang-kadang terjadi akibat perubahan mutasi genetik, yang diturunkan. Gen yang ada di dalam sel membawa informasi genetik yang berasal dari orang tua. Penyakit kanker payudara bukan penyakit keturunan, kecuali sekitar 5-10 per sen. Beberapa gen yang terkait dengan penyakit kanker payudara (BRCA1 dan BRCA2) lebih sering ditemukan pada kelompok etnik tertentu, misalnya pada suku Yahudi Ashkenavi. Sekitar 56 persen wanita suku tersebut akan menderita kanker payudara, dibandingkan dengan 12 persen untuk masyarakat umum. Angka kejadian kanker ovarium dan kanker prostat juga lebih tinggi pada suku tersebut.

kanker payudara

kanker payudara – corbis

Gejala kanker payudara, antara lain, benjolan atau perubahan lain pada payudara. Kanker payudara dapat menyebabkan beberapa tanda dan gejala. Kita perlu memeriksakan diri ke dokter bila menemukan gejala sebagai berikut:

  1. Benjolan atau tumor atau penebalan di sekitar payudara atau ketiak,
  2. Perubahan pada ukuran atau bentuk payudara,
  3. Puting susu yang masuk ke dalam kulit,
  4. Kulit payudara yang berkerut seperti kulit jeruk,
  5. Keluar cairan (bukan air susu) dari puting susu, apalagi bila kemerahan seperti darah,
  6. Ada kemerahan atau pembengkakan di kulit sekitar puting susu. Namun, perlu disadari banyak kondisi bukan kanker yang juga dapat menyebabkan kelainan tersebut.

Dokter akan memeriksa lebih lanjut untuk memastikan apa penyebabnya, antara lain, melalui wawancara, pemeriksaan fisik, mammogram, USG, MRI, pemeriksaan darah, biopsy.

Setelah kanker payudara dipastikan ada, ada beberapa pemeriksaan untuk meneliti sifat sel kanker payudara. Kanker payudara tidak homogen. Kanker payudara bukan satu kesatuan penyakit yang mempunyai perjalanan sama. Sering kita mendengar teman kita yang sama-sama kanker payudara stadium IIA hasil pengobatannya sangat berbeda, yang satu kondisinya baik sekali, lima tahun setelah selesai menjalani pengobatan, sedangkan yang lain baru enam bulan selesai pengobatan (dengan obat yang persis sama), kankernya progresif menjangkiti tulang dan liver.

Keputusan untuk menentukan jenis pengobatan yang terbaik, bergantung pada hasil pemeriksaan sebagai berikut :

  • Tes reseptor estrogen dan progesterone,
  • Tes reseptor “Human epidermal growth factor type 2”(HER2/neu).

Faktor lain yang memengaruhi pemilihan jenis pengobatan, antara lain, derajat ( grade) patologi, usia pasien, masih menstruasi atau sudah menopause, stadium/ tingkat penyakit, ada tidaknya penyakit lain, selain juga kondisi jantung dan ginjal serta fungsi hati.

Kanker payudara “triple negative”. Sebagai contoh ada kanker payudara yang ketiga reseptornya negatif, negatif terhadap tes reseptor estrogen, progesterone, dan Cerb B2 (HER2/neu). Sekitar 25 persen kanker payudara di Jakarta Breast Center (JBC), dan 10-23 persen di Amerika termasuk kelompok triple negative.

Ketiga reseptor negatif, berarti sel kankernya tidak akan berespons, tidak mempan diobati dengan pengobatan hormonal, misalnya tamoxifen, anastrozole (Arimidex), letrozole (Femara). Triple negative juga tidak akan berespons dengan pengobatan yang menargetkan HER2 sebagai sasarannya, yaitu trastuzumab (Herceptin) dan lapatinib (Tykerb).

Sifat lain kanker payudara triple negative, yaitu cenderung lebih progresif, lebih mudah menyebar keluar, dan lebih mudah kambuh. Kecenderungan ini untungnya terbatas pada tiga tahun pertama, setelah pengobatan. Setelah itu, risiko kekambuhan sama seperti jenis kanker payudara yang lain. Mengenai pengobatan kanker payudara, telah dibahas beberapa waktu yang lalu di rubrik yang sama. ( sumber : Dr Zubairi Djoerban – Republika )


No comments.

Leave a Reply

Baca ini jugaclose