Lemas dan Lelah Setelah Kemoterapi

Pasien kanker payudara

Pasien kanker payudara – corbis

Rasa lemas dan mudah lelah memang merupakan salah satu gejala yang sering dikeluhkan pasien kanker yang tengah menjalani terapi radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya. Beberapa pasien tetap mengeluhkan hal ini walaupun sudah selesai menjalani terapi. Untuk pasien kanker payudara yang pengobatannya berhasil (cancer survivor), ada sekitar 30 persen yang mengeluh rasa lelah, bahkan ada yang sampai lima tahun.

Rasa lemas dan mudah lelah seperti halnya dengan rasa nyeri adalah suatu kondisi subjektif yang dirasakan pasien. Artinya, bisa saja dari luar (menurut dokter atau keluarga pasien) tidak tampak lemas dan lelah, tetapi selama pasien mengeluh lemas dan mudah lelah, ya harus dipercaya bahwa benar pasien lemas dan mudah lelah. Lemas dan mudah lelah ini kadang disampaikan dengan istilah berbeda-beda.

Ada yang menyampaikan sebagai rasa capai, tidak bertenaga, fatig, malas, tidak ada energi, kehabisan energi, astenia, malaise, atau merasa lambat. Penyebab pastinya tidak diketahui, diduga terjadi karena banyak faktor. Misalnya, efek samping lanjut pengobatan kanker, anemia, kurangnya nafsu makan, berkurangnya berat badan, perubahan metabolisme, perubahan kadar hormon, stres emosional, masalah tidur, kurang aktivitas, dehidrasi, dan infeksi.

Untuk mengatasinya, perlu identifikasi beberapa kemungkinan penyebab atau faktor pemberatnya. Anemia adalah penyebab yang paling sering terjadi. Anemia dapat disebabkan kankernya, pengobatan kanker, atau sebab lain. Ada tidaknya anemia dapat diketahui dari pemeriksaan darah di laboratorium. Sebagai catatan, perlu diketahui bahwa ada beberapa pasien yang tetap merasakan lelah dan capai walaupun anemia sudah teratasi.

Penilaian terhadap asupan makanan juga perlu dilakukan. Kekurangan nutrisi sering terjadi pada pasien kanker karena tiga faktor. Pertama, adanya perubahan dalam sistem pencernaan. Kedua, nutrisi yang masuk dihabiskan oleh sel-sel kanker. Ketiga, asupan makan yang kurang karena berkurangnya nafsu makan, mual, muntah, maupun diare.

Faktor psikologis juga berperan. Rasa cemas dan depresi adalah hal yang paling sering memengaruhi. Sulit tidur atau kualitas tidur yang buruk juga dapat berpengaruh. Beberapa obat juga dapat menyebabkan keluhan rasa lemas ini, seperti obat antidepresi, antihistamin, dan opioid untuk mengatasi nyeri. Namun, karena Ibu tidak mengonsumsi obat apa pun, kemungkinan penyebab ini dapat kita singkirkan.

Sebuah tim peneliti dari Universitas California Los Angeles yang dipimpin Collado Hidalgo melaporkan peningkatan kadar zat yang disebut sitokin pro inflamasi. Mereka melaporkan bahwa pada pasien survivor kanker payudara yang mengalami rasa kelelahan ditemukan pening katan interleukin-6 dan TNF (tumor necrosing factor) serta penurunan jumlah sel dendrite dan limfosit T yang aktif.

Pengobatan
Setelah faktor penyebab lelah diidentifikasi, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Anemia. Jika terjadi anemia, dapat diatasi dengan pemberian obat-obat yang sesuai. Jika anemia sangat berat, dapat dilakukan transfusi darah.

Nutrisi
Asupan nutrisi yang gizinya seimbang sangat penting. Jika sulit makan dengan pola yang biasa, saya sarankan ibu makan dengan porsi kecil, tetapi lebih sering, misalnya, makan 4 sampai 6 kali sehari. Buatlah suasana makan yang menyenangkan, seperti menggunakan peralatan makan yang cantik dan makan bersama keluarga atau teman sambil mengobrol.

Menjaga tetap aktif. Aktivitas di luar rumah seperti yang biasa dilakukan sebelum sakit perlu tetap dijalani, tetapi kuantitas dan kualitasnya jangan langsung sama seperti dulu. Mulailah sedikit demi sedikit. Jika merasa lelah, jangan langsung tidur. Jika memang sangat lelah, usahakan tidur tidak lebih dari satu jam pada siang hari. Sisanya diisi dengan aktivitas ringan di rumah pada siang hari.

Diharapkan, pada malam hari, tidur pun dapat benar-benar nyenyak. Jangan tidur di tempat yang kurang tenang seperti di depan televisi. Olahraga juga tetap perlu dilakukan. Walaupun mungkin merasa mudah lelah, melakukan olahraga ringan justru akan membantu mengatasi keluhan tersebut.

Olahraga ringan bisa dimulai, misalnya, dengan berjalan cepat 5 menit setiap pagi dan 5 menit di sore hari, kemudian secara bertahap ditingkatkan menjadi 30 menit setiap hari. Cognitive behavior therapy. Jika diperlukan, dapat dilakukan terapi kognitif perilaku yang ditujukan untuk meng atasi masalah psikologis seperti stres akibat pengalaman selama pengobatan kanker, rasa takut akan sakit kanker kembali, masalah tidur, serta mengupayakan dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan masyarakat.

Menerima kondisi. Upaya yang penting dalam mengatasi rasa lelah yang kronik setelah pengobatan kanker adalah menerima kenyataan bahwa ada rasa lelah dan belajar bagaimana hidup dengan rasa lelah yang mendampingi dan bagaimana mengatasinya. Upaya pengobatan rasa lemas dan mudah lelah merupakan upaya penting karena lemas dan lelah mempunyai dampak negatif ke perasaan, interaksi sosial, aktivitas pekerjaan sehari-hari, dan kepribadian kita.

Oleh karena itu, sambil menjalankan tips di atas, disarankan Anda berkonsultasi dengan tim kanker di RS Sardjito, jangan lupa membawa semua data beserta dokumen, hasil patologi anatomi, laboratorium, radiologik, dan rincian riwayat pengobatan. ( sumber : Zubairi Djoerban – Republika )


No comments.

Leave a Reply

Baca ini jugaclose